Nasihat Terakhir dan Parinibbana
Penahbisan Terakhir
Saat itu, seorang petapa kelana (paribbajaka) bernama Subhaddha sedang tinggal di Kusinara. Ia mendengar bahwa Petapa Gotama akan mencapai Parinibbana pada waktu jaga malam yang ketiga. Ia berpikir, ”Telah kudengar dari para sesepuh yang mulia serta guru-guru dari para petapa kelana bahwa sungguh amat langka para Yang Tercerahkan Sempurna, para Tathagata, muncul di dunia ini. Dan malam ini, pada waktu jaga malam yang terakhir, Petapa Gotama akan mencapai Nibbana Akhir. Keraguan telah muncul dalam batinku dan aku memiliki keyakinan terhadap Petapa Gotama bahwa Ia bisa mengajarkanku ajaran tersebut sedemikian rupa agar aku bisa menghalau keraguanku.”

Tanpa menunda waktu, Subhadda pergi ke hutan sala itu dan menghadap Bhikkhu Ananda, menyatakan pemikirannya, namun Bhikkhu Ananda menolak mempertemukannya dengan Buddha Gotama dengan alasan bahwa Buddha Gotama merasa letih. Subhadda mengulangi permintaannya untuk yang kedua dan ketiga kalinya, namun Bhikkhu Ananda menjawab dengan cara yang sama dan menolaknya. Mendengar percakapan antara Bhikkhu Ananda dan Subhadda, Buddha Gotama memanggil Bhikkhu Ananda: “Cukup, Ananda! Jangan halangi Subhadda! Biarkan ia menghadap Tathagata! Karena apa pun yang akan ditanyakan Subhadda kepada Saya, ia hendak bertanya demi memuaskan keinginannya memperoleh pengetahuan sempurna, bukan untuk mengganggu Saya, dan apa pun jawaban Saya terhadap pertanyaannya akan segera dipahaminya.”
Lalu Bhikkhu Ananda berkata: “Pergilah, Sahabat Subhadda! Buddha Gotama memperkenankanmu.”
Setelah bertukar salam hangat dengan Buddha Gotama dan duduk di satu sisi, Subhadda mengajukan pertanyaan yang membuatnya ragu. Kemudian Buddha Gotama membabarkan Dhamma kepadanya:
“Subhadda, dalam Dhamma dan Vinaya mana pun yang tidak mengandung empat Kebenaran Arya, tidak akan terdapat satu pun petapa dengan tingkat kesucian pertama (Sotapatti), tidak akan terdapat satu pun petapa dengan tingkat kesucian kedua (Sakadagami), tingkat kesucian ketiga (Anagami), maupun tingkat kesucian keempat (Arahatta). Dalam Dhamma dan Vinaya mana pun yang mengandung Empat Kebenaran Mulia, akan terdapat pula para petapa dengan tingkat kesucian pertama, tingkat kesucian kedua, tingkat kesucian ketiga, dan tingkat kesucian keempat.”
Setelah Buddha Gotama selesai membabarkan Dhamma, Subhadda merasa takjub dan menyatakan bernaung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, serta memohon untuk ditahbiskan. Buddha Gotama menerima Subhadda dalam Persamuhan para bhikkhu tanpa menjalani masa percobaan.
Lalu Subhadda menerima penahbisan awal dan penahbisan penuh ke dalam Persamuhan selaku bhikkhu di hadapan Buddha Gotama. Ia dibimbing oleh-Nya untuk bermeditasi dengan cara yang tepat. Setelah itu Bhikkhu Subhadda memencilkan diri, bermeditasi dengan menjaga perhatian penuh secara berkesinambungan, berusaha dengan tekun, dan mengarahkan batinnya untuk mencapai kesucian Arahatta. Ia merupakan orang terakhir diterima oleh Buddha Gotama memasuki Persamuhan dan yang terakhir menjadi Arahat saat Buddha Gotama masih hidup.

Sabda Terakhir
Buddha Gotama berkata kepada Bhikkhu Ananda: “Ananda, engkau mungkin berpikir: ‘Bimbingan dan Sang Guru tak ada lagi; sekarang kita tak lagi memiliki guru.’ Namun, engkau tak seharusnya berpikir demikian karena apa yang telah Saya ajarkan dan Saya babarkan kepadamu sebagai Dhamma dan Vinaya[4] akan menjadi gurumu setelah Saya wafat.”
“Sampai saat ini, para bhikkhu saling menyapa dengan sebutan ‘Avuso’[5], namun mereka sebaiknya tidak melakukan hal ini setelah Saya mangkat. Bhikkhu yang lebih tua seharusnya menyapa bhikkhu yang lebih muda dengan nama bhikkhu atau nama keluarganya, atau sebagai ‘Avuso’. Dan bhikkhu yang lebih muda seharusnya menyapa bhikkhu yang lebih tua sebagai ‘Bhante’[6] atau Ayasma[7].”
“Ananda, jika memang diinginkan, Sangha boleh menghapuskan aturan-aturan kecil dan yang kurang penting setelah Saya mangkat.”
“Dan Ananda, setelah Saya mangkat nanti, hukuman berat sekali (brahmada??a) harus dijatuhkan kepada Channa.[8]”
“Tapi, Bhante, apa hukuman berat sekali itu?”
“Apa pun yang diinginkan ataupun yang dikatakan Channa, ia tak boleh disapa, ditegur, ataupun dibimbing oleh para bhikkhu lainnya.”
Lalu Buddha Gotama berkata kepada para bhikkhu demikian: “Para Bhikkhu, mungkin saja ada bhikkhu yang memiliki keraguan atau ketidakpastian mengenai Buddha, Dhammu, Sangha, Jalan Suci, ataupun mengenai cara latihan. Bertanyalah sekarang, Para Bhikkhu! Jangan menyesal kelak dengan berpikir: ‘Kami berhadapan muka dengan Sang Guru, namun kami gagal bertanya kepada Yang Terberkahi langsung untuk menghalau keraguan kami’”
Ketika hal mi disampaikan, para bhikkhu diam saja. Untuk kedua dan ketiga kalinya, Buddha Gotama mengulangi kata-kata¬Nya, dan mereka tetap saja diam. Lalu Buddha Gotama berkata: “Para Bhikkhu, mungkin karena rasa hormat terhadap Sang Gurulah kalian tidak bertanya kepada Saya. Kalau begitu, Para Bhikkhu, biarlah sahabat yang satu menyampaikannya kepada yang lainnya!” Akan tetapi, mereka tetap saja diam.
Lalu Bhikkhu Ananda berkata kepada Buddha Gotama: “Menakjubkan, Bhante! Menakjubkan, Bhante! Saya begitu yakin bahwa di dalam kumpulan mi tak seorang bhikkhu pun yang memiliki keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, Sangha, Jalan Suci, ataupun mengenai cara latihan.”
“Ananda, engkau berkata atas keyakinan, namun Tathagata mengetahui bahwa di dalam kumpulan ini tak seorang bhikkhu pun yang memiliki keraguan atau kebimbangan mengenai Buddha, Dhamma, Sangha, Jalan Suci, ataupun mengenai cara latihan. Ananda, di antara kelima ratus bhikkhu ini, yang paling rendah pun adalah seorang Sotapanna[9], yang tak akan terjatuh ke alam rendah, namun kelak pasti akan mencapai Pencerahan.”
Lalu Yang Terberkahi berkata kepada para bhikkhu dan memberikan bimbingan-Nya yang terakhir:
“Handa dani, bhikkhave, amantayami vo, vayadhamma sa?khara, appamadena sampadetha.”[10] (“Saat ini, para Bhikkhu, Saya nyatakan kepada kalian: semua hal yang terbentuk dari perpaduan pasti akan hancur. Berusahalah dengan tekun!”)
Catatan:
[1] Parinibbana (Sanskerta: Parinirva?a), secara harfiah berarti nibbana seutuhnya, berasal dari kata “pari” (seutuhnya, seluruhnya, komplet) dan kata “nibbana” (padam). Disebut juga anupadisesa nibbana yang berarti nibbana tanpa lima gugusan/kelompok kehidupan yang tersisa. Merupakan pencapaian Nibbana bagi para Arahant yang telah mangkat.
[2] Tathagata, secara harfiah berarti Yang Datang atau Pergi dengan Cara Demikian, berasal dari kata “tatha” (dengan cara demikian) dan kata “gata” (pergi atau datang). merupakan sebutan atau gelar bagi Buddha.
[3] Sukaramaddava (Sanskerta: Sukaramardava), adalah nama dari sejenis makanan. Hingga sekarang, jenis makanan ini masih belum diketahui secara pasti. Secara harfiah berasal dari kata sukara (babi) dan maddava (lunak). Menurut Digha Nikaya Atthakatha (kitab komentar), Sukaramaddava atau daging babi lunak adalah daging dari seekor babi yang tidak terlalu muda atau terlalu tua, yang sudah tersedia (pavattama?sa) dan tidak dibunuh khusus untuk Buddha Gotama; sebagian ahli menafsirkannya sebagai beras lunak yang ditanak dengan lima macam makanan olahan dari sapi; sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah makanan khusus yang dipersiapkan dengan ramuan tertentu yang disebut rasayana yang lezat dan sangat bergizi, dan sementara sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa makanan tersebut adalah tumbuhan jamur yang digemari oleh babi.
[4] Disiplin, peraturan, penuntun.
[5] Teman atau Saudara.
[6] Yang Terhormat atau Guru.
[7] Yang Mulia.
[8] Channa adalah kusir Pangeran Gotama, dan telah lama bergabung dalam Sangha, namun memperlihatkan sikap yang suka melawan. Perlakuan yang dikenakan kepadanya oleh perintah Sri Buddha adalah untuk mengembalikan kesadarannya.
[9] Sanskerta: Srotapanna, dari kata “srota” (arus) dan “apanna” (masuk) yang berarti Pemasuk Arus, yaitu mereka yang telah mencapai tingkat kesucian pertama karena telah masuk ke dalam arus atau Jalan kesucian.
[10] Appamadena sampadetha, berasal dari kata “appamadena” (tanpa lengah, tanpa lalai; lawan kata: tekun) dan “sampadetha” (berusaha, berjuang). Kata-kata ini juga muncul sebelumnya di Kutagarasala ketika Buddha Gotama memberitahukan kepada Sangga Bhikkhu mengenai Parinibbana-Nya .
Sumber : https://www.salamedukasi.com/
Komentar
Posting Komentar