Tahu Berterima Kasih Dalam Agama Buddha
Kisah Pertapa Pinggir Sungai
Jataka 73
(Kisah Tentang Akibat tidak Tahu Berterima Kasih)
Pada suatu ketika, Bodhisattva terlahir sebagai seorang petapa. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil sederhana di pinggir sungai. Sebelumnya, ia adalah seorang anak dari keluarga kaya di Kasi. Setelah dewasa, ia memilih melepas kekayaan dan jabatannya untuk menjadi seorang petapa. Ketika hari telah larut malam disertai hujan yang besar, ia mendengar suara tangisan minta tolong dari arah sungai yang sedang banjir. Ternyata benar, ada seorang pemuda yang sedang ketakutan sambil menangis minta tolong yang sedang berpegangan di atas sebuah batang kayu yang terapung-apung di sungai yang banjir besar. Setelah mendekat, ternyata bukan hanya pemuda sendirian, tetapi juga ada makhluk lain yang berpegangan erat di batang kayu yang sama, yaitu seekor Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua.

Diceritakan pula bahwa ular dan tikus sebenarnya adalah kelahiran kembali dua orang saudagar yang kaya raya di Benares. Dua saudagar kaya tersebut terkenal sangat kikir dan menyimpan hartanya dengan menguburnya di tepi sungai. Setelah kematiannya, kedua saudagar itu terlahir sebagai ular dan tikus yang tetap menunggui hartanya yang dikubur di tepi sungai. Ketika banjir datang, kedua binatang itu bersama burung kakak tua yang belum bisa terbang terseret arus bersama dengan seorang pemuda.
Adapun pemuda itu sebenarnya adalah anak seorang raja bernama Brahmadata di Benares. Ia terkenal sangat kasar dan kejam. Tidak sedikit orang yang membenci perbuatannya itu. Pada waktu ia berenang di sungai, tiba-tiba sungai banjir dan ia pun tak dapat menyelamatkan diri sehingga hanyut bersama arus sungai yang deras. Beruntung ia dapat berpegangan pada sebatang kayu yang terapung di sungai. Dalam perjalanannya, ikut pula Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua yang menyelamatkan diri dari banjir dengan berpegangan pada kayu yang sama. Petapa itu berlari ke tepi sungai dan berteriak, “Jangan takut! Aku akan menyelamatkanmu!” Lalu ia menyeret kayu itu ke tepi sungai. Ia membantu Pangeran itu naik ke darat, demikian pula Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua ikut diselamatkan. Petapa itu menyalakan api untuk menghangatkan mereka serta memberi mereka makan sehingga badannya kembali sehat dan segar. Tetapi pemuda sombong itu merasa iri dan tidak senang petapa itu menyelamatkan Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua. Dalam hatinya ia membenci petapa yang telah menolongnya.
Keesokan harinya, Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua menghampiri petapa untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Ular berkata, “Yang Mulia, terima kasih atas semua jasa baikmu pada saya, dan aku bukanlah ular yang miskin. Di suatu tempat aku mengubur harta senilai 40 juta keping emas. Karena nyawa sungguh tak ternilai, kapan pun Yang Mulia memerlukan uang, datanglah ke tepi sungai dan panggilah aku.” Demikian pula Tikus, dengan harta senilai 30 juta keping emas. Kakak Tua berjanji akan memberikan beras yang terbaik ketika petapa tersebut membutuhkan. Adapun pangeran jahat itu masih menyimpan dendam dan kebencian. Ia masih saja berpikir cara membunuh petapa jika ia melihatnya lagi. Namun, ia pun berucap, “Yang Mulia, bila saya menjadi raja, mohon datanglah kepadaku dan saya akan menyediakan empat kebutuhan untuk Anda,” kemudian ia kembali ke kerajaannya di Benares.

Setelah waktu berlalu, akhirnya petapa pun ingin menguji ketulusan keempat makhluk yang ditolongnya itu. Maka, Ia menghampiri tempat tinggal Ular, Tikus, dan burung Kakak Tua. Ternyata benar, mereka memberikan seperti apa yang mereka janjikan. Tetapi, petapa itu belum membutuhkannya sehingga ia pun menolak apa yang diberikan ketiga binatang tersebut. Ketika petapa menemui pangeran yang telah menjadi raja, ternyata raja yang kejam itu masih memiliki dendam pada petapa itu sehingga petapa itu ditangkap dan hendak dibunuh dan dipertontonkan di depan orang banyak. Perbuatan itu tidak disukai oleh rakyatnya, terlebih ketika rakyatnya tahu dari petapa bahwa rajanya pernah diselamatkan oleh petapa itu. Maka rakyatnya bersatu padu menggulingkan kekuasaan raja yang lalim dan kejam itu.
Pada akhirnya, rakyat Benares menghendaki petapa itu menjadi raja dan memakmurkan rakyatnya. Petapa pun tidak dapat menolak permintaan rakyatnya. Setelah menjadi raja, Ia menemui Ular, Tikus, dan Burung Kakak Tua untuk mengambil apa yang telah diberikan kepadanya berupa uang senilai 70 keping emas dan beras yang terbaik. Harta-harta tersebut dipakai raja untuk memakmurkan rakyat yang dicintainya. Ketiga binatang itu pun hidup bahagia bersama raja di Kerajaan Benares.
Komentar
Posting Komentar