Untung dan Rugi Dalam Agama Buddha
Delapan Kondisi Duniawi
Umumnya setiap orang ingin terus hidup senang, terkenal, dipuji, serta selalu untung. Tetapi tidak semua harapan sesuai dengan kenyataan. Mengapa? Terdapat delapan kondisi yang pasti dalam kehidupan ini yang terbagi dalam empat pasang yaitu untung dan rugi, terkenal dan tidak terkenal, dipuji dan dicela, bahagia dan menderita.
Untung dan Rugi (Labha dan Alabha)
Kisah Si Lebai yang Malang
(Cerita Rakyat Sumatra Barat)
Lebai adalah seseorang yang lugu dan baik hati. Tetapi dalam memutuskan sesuatu selalu saja menimbang-nimbang untung dan rugi. Suatu hari, Lebai mendapat dua undangan pesta pernikahan. Undangan pertama berasal dari kerabat jauhnya di hulu sungai, dan yang satunya berasal dari muridnya di hilir sungai. Keduanya diadakan pada hari dan jam yang sama. Lebai pun menimbang-nimbang untung dan ruginya undangan siapa yang akan didatangi.

Sampai tiba waktunya, Lebai masih belum juga memutuskan. Setelah berpikir ingin mendapat untung besar, maka dia memutuskan untuk menghadiri kedua pesta tersebut. Dia tak mau rugi, karena tuan rumah pertama menjanjikan kepala sapi untuknya, dan tuan rumah kedua menjanjikan dua kepala kambing. Si Lebai bersiap mendayung perahunya.
Ketika sedang mendayung perahunya ke tempat kerabatnya di hulu, dia berpikir tidak mau rugi, karena masakan muridnya di hilir lebih enak. Maka Lebai pun berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Tetapi, dalam perjalanan dia berjumpa dengan tamu-tamu yang baru saja pulang. Mereka bercerita bahwa tamu di hilir sangat banyak dan berdesak-desakan mengambil makanan.
Mendengar berita itu, Lebai pun berpikir tidak mau rugi karena jika sampai di hilir pasti makanan sudah habis. Maka, Lebai pun berbalik arah mendayung perahunya ke hulu. Sesampai di tempat pesta kerabatnya ternyata pesta telah usai. Semua makanan sudah habis. Kerabatnya menyambut Lebai dan meminta maaf karena dikiranya Lebai tidak jadi datang, sehingga kepala sapinya telah diberikan untuk orang lain.
Akhirnya Lebai mengarahkan perahunya menuju ke hilir, untuk menghadiri undangan pesta muridnya. Namun setelah sampai, pesta telah usai. Semua makanan sudah habis. Muridnya menyambut dan meminta maaf. “Maafkan aku, Guru. Aku kira Guru tidak mau datang. Jadi kepala kambingnya sudah kuberikan kepada orang lain”. Dengan gontai Lebai meninggalkan pesta. (Disadur dengan perubahan dari buku 100 cerita rakyat nusantara halaman 44-47)

Ada siswa Buddha yang hidupnya selalu memiliki keberuntungan, namanya Bhikkhu Sivali. Bahkan sejak dalam kandungan, Dia selalu membawa keberuntungan bagi orang tuanya. Hingga ketika menjadi bhikkhu pun, Dia juga membawa keberuntungan bagi siapa pun yang berada bersamanya. Suatu hari, Buddha mengajak Bhikkhu Sivali untuk menempuh perjalanan ke tempat bhikkhu Revata. Perjalanan ke tempat tersebut sangat sulit dan jarang ada orang yang mendermakan makanan. Namun, dengan adanya Bhikkhu Sivali, mereka selalu mendapatkan derma dalam perjalanan, dan bahkan berlebihan.
Berkah keberuntungan yang dimiliki bhikkhu Sivali berasal dari tekadnya pada masa kehidupan lampau. Tepatnya dimulai sejak masa Buddha Padumuttara. Dia bertekad untuk berderma selama 7 hari kepada Buddha dan para bhikkhu. Kemudian ketika masa Buddha Vipassi, Sivali mendermakan madu, dadih susu, dan gula yang cukup untuk ribuan bhikkhu yang membutuhkan.
Baca Juga : Tahu Berterima Kasih Dalam Agama Buddha
Sumber : https://annibuku.com/
Komentar
Posting Komentar